<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Permata Yang Hilang &#187; KISAH HIKMAH</title>
	<atom:link href="http://saifuna.blogmalhikdua.com/category/kisah-hikmah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://saifuna.blogmalhikdua.com</link>
	<description>sendiri lagi kapan datang engkau menjelang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Apr 2010 01:42:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Istikharahlah Meski itu Untuk Urusan Tali Sandalmuâ€¦</title>
		<link>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/12/17/istikharahlah-meski-itu-untuk-urusan-tali-sandalmu%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/12/17/istikharahlah-meski-itu-untuk-urusan-tali-sandalmu%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 14:14:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saifuna</dc:creator>
				<category><![CDATA[KAJIAN ISLAMI]]></category>
		<category><![CDATA[KISAH HIKMAH]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[seba - serbi]]></category>
		<category><![CDATA[IPA]]></category>
		<category><![CDATA[IPS]]></category>
		<category><![CDATA[Istiharah]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>
		<category><![CDATA[SMU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://saifuna.blogmalhikdua.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[Bagi sebagian besar ummat muslim, memilih jalan istiharah dalam menentukan sebuah pilihan mungkin sudah tidak menjadi alternatif yang cocok lagi, bahkan untuk urusan jodoh-pun terkadang ritual istiharah mereka abaikan, sehingga akan muncul kehawatiran para dukun dan para-normal akan semakin laris manis, apalagi dengan dukungan teknologi yang semakin memudahkan coustemer-nya untuk ber-dukun ria dan ber-para-normal ria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><img class="alignleft" src="http://3.bp.blogspot.com/_3d0GDLAXLJ8/SIgYr7ml5eI/AAAAAAAAADg/ZUlgXsWN1Lk/s200/sandal_jepit.jpg" alt="" width="168" height="200" />Bagi sebagian besar ummat muslim, memilih jalan <strong>istiharah</strong> dalam menentukan sebuah <strong>pilihan</strong> mungkin sudah tidak menjadi alternatif yang cocok lagi, bahkan untuk urusan jodoh-pun terkadang ritual istiharah mereka abaikan, sehingga akan muncul kehawatiran para dukun dan para-normal akan semakin laris manis, apalagi dengan dukungan teknologi yang semakin memudahkan coustemer-nya untuk <span style="text-decoration: line-through">ber-dukun</span> ria dan <span style="text-decoration: line-through">ber-para-normal</span> ria melalui <strong>ponsel</strong> yang semakin lengkap fitur dan fasilitasnya.<span id="more-395"></span> Namun demikan, hal itu tidak terjadi pada <a href="http://misslav.blogdetik.com/2009/12/17/istikharahlah-meski-itu-untuk-urusan-tali-sandalmu/comment-page-1/#comment-13">ibu</a> dua orang anak yang sebelumnya sudah pernah saya muat salah satu tulisannya dengan tema <a href="http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/11/22/tips-menjaga-kehamilan-agar-persalinan-mudah-dan-lancar/">&#8221; agar persalinan mudah dan lancar&#8221;.</a></p>
<p style="text-align: justify">Ini adalah kali kedua penulis memuat tulisan beliau, dan berikut ini adalah kisah yang sangat mencerahkan dari kisah beliau dalam perjuangan mengarungi jalan hidupnya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><strong>&#8220;Istikharahlah Meski itu Untuk Urusan Tali Sandalmuâ€¦&#8221;</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify">Kalimat itulah yang pertama kali memotivasiku untuk melakukan shalat Istikharah. Sebuah kutipan dari kumpulan riwayat tentang Sunnah Nabi saw dalam buku Riyadhus Shalihin. Maklum kala itu akuÂ sedangbersemangat menjalankan amalan-amalan sunah karena sedang giat-giatnya mengikuti ekskul Rohis di sekolah. Tanpa pikir panjang langsung saja kuterapkan hadist tersebut dalam kasusku yang saat itu sedang bingung dalam menentukan pilihan program/jurusanÂ studiÂ di kelas 3Â SMA.</p>
<p style="text-align: justify">Memang kiranya agak berlebihan mengingat itu merupakan pilihan sepele.Teman-temanku saja mungkin gak pernahambilÂ pusing dengan itu semua, karena mereka cenderung hanya mengejarÂ â€˜prestiseâ€™Â denganÂ saling berebut untuk menjadi siswa kelasÂ 3 IPA, adapula beberapa teman yang rela didikte ortu mereka dengan segudang argumen masa depan cemerlang yang bakal diraih kelak dengan masuk kelas IPA atau bahkan kebanyakan teman-temanku pasti akan memilih jurusan sambil komat/it â€œtang ting tung yg kena beruntungâ€ dengan jari menunjuk kancing baju seragamÂ Putih Abu-abunya. Tapi diriku malah menghabiskan 1Â tahun masa belajarku di kelas 2 SMA dengan rutinitas shalat Istikharah setiap malamnya tanpa putusâ€¦Subhanallah!</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Tak pernah terbayang sebelumnya ternyata demikian sulitnya pengalamanÂ pertamaÂ Istikharahku kala itu. SebabkurasakanÂ selama hatiÂ iniÂ bimbang, otak masih penuh dengan pikiran, jiwa masih takut akan kegagalan, cemoohan, atau malu dengan pilihan-pilihan hidup yang tak bergengsiÂ misalnya, maka kemantapan hati pun tak kunjung datang. Berkali-kali aku bermimpi menjadi anak IPA namun itu tak kuanggap sebagai jawaban karena mungkin aku masih terobsesi masuk IPA. Wajarlah karena nilai-nilai akademikku selama sekolah juga pantas menempatkanku di kelas IPAÂ karenaÂ selamaÂ belajar nilai Raport-ku masih berwarna â€˜hitamâ€™ dan kebetulanÂ selaluÂ menopangku untukberada di rangking 5 besar sejak SD-SMA. TentulahÂ wajarpulaÂ jika arogansi itu masih sangatlahÂ alamiah munculÂ begitu sajaÂ danÂ bahkanÂ cenderung mendominasi dalam benakku kala itu. Namun ntah mengapa semua itu aku abaikan, sampai tibaÂ masanya Jawaban Istikharahku mulai terjawab sudah. Sepekan jelang pembagianÂ Raport kelas 2Â SMA,Â aku begitu cemas dan benar-benar ingin masuk kelas IPSÂ sampai akhirnya dengan berani kutemui guru BP sebelum menghadapÂ wali kelasku sendiri karena aku ingin meminta langsung kepada beliau agar bisa dimasukkan ke dalam kelas/program IPS. Mereka pun akhirnya sepakat menerima argumenku saat itu dan kisah pun berakhir dengan sebuahtulisan di buku Raport-ku yang menyatakan bahwa aku masuk jurusan IPS.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Adapun hikmah-hikmah dalamÂ kisahÂ perjalanan daripengalamanÂ shalat Istikharahku adalahÂ sejak saat itu aku selalu ingin ber-Istikharah dengan Rabb-ku untuk semua pilihan-pilihan hidupku selanjutnya. Entah itu untuk urusan Kuliah, nafkah maupun soal nikah.Â Belum lagi lantaran motivasi dari banyaknya â€˜bonusâ€™ yang kudapatkan dari kesuksesan Istikharah-ku yang hanya berawal dari coba-coba tersebut. Ya, tak terdugaÂ pada angkatanku itulah kali pertama terbentuk kelas IPS unggulan di sekolahku yang berisikan siswa-siswa denganÂ prestasi akademik dan non akademik memenuhi kuota kelas 48 siswa. Mereka adalah siswa denganÂ rangkingÂ 7 besar dari setiap kelas 2Â atau siswa-siswa unggul lainnyaÂ dengan piala-piala kejuaraan non akademik yang pernah mereka raih selama menjadi siswa SMA 71. Tak hanya itu aku tetap masuk nominatorÂ JuaraKelas sehingga membawaku padaÂ predikat akhir saat acara Wisuda SMA sebagai Peringkat II Siswa Berprestasi Program IPS danÂ kelulusan sebagai perwakilan sekolahku yang terpilih menjadi Mahasiswa PMDK di FakultasÂ HukumÂ UNSOED PurwokertoÂ 3 hari jelang EBTANAS, bertemu sekaligus menjemput jodohku dari tempat yang cukup jauhÂ di belahan Timur pulau Jawa sebabÂ diaÂ Alumnus ITS Surabaya, mendapat kemudahan saat hamil pertamaÂ meskipunÂ dengansituasi yang rumit lagi sulit karena kala itu aku sedang dalam proses merampungkan studiku di Kota Mendoan tersebut. Namun denganÂ berbekalÂ tema Skripsi dari link seniorku di SMAÂ dulu akhirnya semua rampung tepat pada waktunyadan kemudian malah memberiku pengalaman bekerja di sebuah perusahaan Asuransi Syariah pertama di Indonesia saat hamil anak keduakuâ€¦</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Fiuh!!! Sebuah perjalanan PANJANG nan RUMIT yang tentu lebih besar urusannya dari sekedar urusan TALI SANDAL dan kupikirÂ memang seharusnya demikian untuk meraih segala hajat hidup kita, apalagi berkaitan dengan hal-ha yang sifatnyal â€˜ghaibâ€™ seperti iniÂ hanya dapat diselesaikan dengansalatÂ IstikharahÂ agar kita kelak dapat â€˜bersahabatâ€™ dengan takdir Allah SWT apapun itu.</p>
<p style="text-align: justify">Waallahu â€˜alam bi Shawwabâ€¦.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/12/17/istikharahlah-meski-itu-untuk-urusan-tali-sandalmu%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
<enclosure url="" length="" type="" />
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menjaga Kehamilan Agar Persalinan Mudah dan Lancar</title>
		<link>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/11/22/tips-menjaga-kehamilan-agar-persalinan-mudah-dan-lancar/</link>
		<comments>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/11/22/tips-menjaga-kehamilan-agar-persalinan-mudah-dan-lancar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 04:09:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saifuna</dc:creator>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>
		<category><![CDATA[KISAH HIKMAH]]></category>
		<category><![CDATA[Serba - Serbi]]></category>
		<category><![CDATA[TIPS & TRIK]]></category>
		<category><![CDATA[seba - serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Hamil]]></category>
		<category><![CDATA[Persalinan]]></category>
		<category><![CDATA[Proses]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://saifuna.blogmalhikdua.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[Pada postingan kali ini sengaja saya kopas langsung dari kisah heroik seorang ustadzah, jujur saja setelah saya membacanya, saya jadi tertarik untuk menuliskan tulisan tersebut di blog saya. Hal ini tidak lepas dari prosedur yang berlaku untuk meng-kopas sebuah artikel lain, karena sayapun sudah meminta izin kepada suami dari si pemilik blog heroik itu. berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://i470.photobucket.com/albums/rr65/mahabbahsejati/Labor.jpg" alt="" width="320" height="214" />Pada postingan kali ini sengaja saya kopas langsung dari kisah heroik seorang ustadzah, jujur saja setelah saya membacanya, saya jadi tertarik untuk menuliskan tulisan tersebut di blog saya.<span id="more-385"></span></p>
<p>Hal ini tidak lepas dari prosedur yang berlaku untuk meng-kopas sebuah artikel lain, karena sayapun sudah meminta izin kepada <a href="http://novi.blogmalhikdua.com">suami</a> dari si pemilik blog heroik itu.  berikut adalah beberapa tips menjaga <strong>kehamilan </strong>agar <strong>proses persalinan</strong> dapat berjalan mudah dan lancar :</p>
<p style="margin-left: 0.75in;text-align: justify"><span style="font-size: 11pt" lang="IN">1.<span style="font-variant: normal;font-weight: normal;font-size: 7pt"> </span></span> <span style="font-size: 11pt" lang="IN">Jangan â€˜overweightâ€™ saat hamil agar bobot bayi tak besar di dalam rahim, Â cukuplah 3 kilo saja sehingga meminimalkan komplikasi dan peluang besar lahir dengan persalinan normal dalam waktu singkat.</span></p>
<p style="margin-left: 0.75in;text-align: justify"><span style="font-size: 11pt" lang="IN">2.<span style="font-variant: normal;font-weight: normal;font-size: 7pt"> </span></span> <span style="font-size: 11pt" lang="IN">Terapkan strategi makan sedikit tapi rutin namun full nutrisi. Tak perlu 2 piring untuk 2 orangâ€¦ Cukuplah penuhi nutrisi harian dengan segelas susu, sepotong roti, sepotong keju, beberapa batang coklat, buah-buahan,3 butir Kurma dan 1cup Ice cream.</span></p>
<p style="margin-left: 0.75in;text-align: justify"><span style="font-size: 11pt" lang="IN">3.<span style="font-variant: normal;font-weight: normal;font-size: 7pt"> </span></span> <span style="font-size: 11pt" lang="IN">Banyak2 berbicara dengan janin serjak awal kehamilan agar mereka mau mencari jalan lahirnya sendiri tanpa menyusahkan si ibu. </span></p>
<p style="margin-left: 0.75in;text-align: justify"><span style="font-size: 11pt" lang="IN">4.<span style="font-variant: normal;font-weight: normal;font-size: 7pt"> </span></span> <span style="font-size: 11pt" lang="IN">Siapkan semua perlengakapn bersalin jauh2 hari agar tidak menghambat proses persalinan. Semua pun bisa kita lakukan sendiri tanpa panik saat tiba waktu bersalin.</span></p>
<p style="margin-left: 0.75in;text-align: justify"><span style="font-size: 11pt" lang="IN">5.<span style="font-variant: normal;font-weight: normal;font-size: 7pt"> </span></span> <span style="font-size: 11pt" lang="IN">Makanlah Kurma sejak 8 bulan kandungan meskipun tidak suka, karena di dalam Kuirma terkandung zat yang mampu memudahkan persalinan. </span></p>
<p style="margin-left: 0.75in;text-align: justify">
<p style="margin-left: 0.75in;text-align: justify"><span style="font-size: 11pt" lang="IN">Agar pembaca bisa lebih yakin dengan hasilnya, silahkan baca kisah nyata yang sangat menraik dan menggelitik dari seorang ustadzah <a href="http://misslav.blogdetik.com/2009/11/20/kurma-di-balik-persalinan-heroik/comment-page-1/#comment-2">disini.</a> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/11/22/tips-menjaga-kehamilan-agar-persalinan-mudah-dan-lancar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
<enclosure url="" length="" type="" />
		</item>
		<item>
		<title>Pak Tua dan Ibu yang Cerdas</title>
		<link>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/10/15/pak-tua-dan-ibu-yang-cerdas/</link>
		<comments>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/10/15/pak-tua-dan-ibu-yang-cerdas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 14:33:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saifuna</dc:creator>
				<category><![CDATA[KISAH HIKMAH]]></category>
		<category><![CDATA[seba - serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Bersorban]]></category>
		<category><![CDATA[Ciputat]]></category>
		<category><![CDATA[Gandaria]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kebayoran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://saifuna.blogmalhikdua.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Setelah hampir setengah hari menghabiskan waktu dengan teman teman se-kuliahan di bascamp.Â  Sayapun menyegerakan diri untuk pulang ke rumah kost teman saya di ciputat. Saya minta tolong seorang teman untuk mengantarkan di Halte Bus Gandaria karna kebetulan hari itu gak bawa motor. Tak lama berdiri di depan halte, saya langsung duduk di bangku bagian belakang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah hampir setengah hari menghabiskan waktu dengan teman teman se-kuliahan di bascamp.Â  Sayapun menyegerakan diri untuk pulang ke rumah kost teman saya di ciputat. Saya minta tolong seorang teman untuk mengantarkan di Halte Bus <strong>Gandaria</strong> karna kebetulan hari itu gak bawa motor.<span id="more-364"></span></p>
<p>Tak lama berdiri di depan halte, saya langsung duduk di bangku bagian belakang angkot D 01 ( <strong>Kebayoran &#8211; Ciputat</strong> ). Berhadapan tepat dengan saya, seorang lelaki tua <strong>berbaju batik dan bersorban</strong> terlihat lelah dalam perjalananya menuju satu tempat yang belum saya ketahui dimana dia hendak turun.</p>
<p>Setelah merasa hampir sampai di tujuan, Tepatnya di Kawasan Pasar Jumat, dengan wajah bingung Pak Tua pun bertanya kepada siswi SMA yang kebetulan duduk bersebelahan denganya &#8221; De..Kalo mau ke Pasar Rebo turun disini yah? &#8221; , karna merasa ragu dengan jawabanya Siswa SMA itu langsung melontarkan pertanyaan yang senada kepada saya. &#8221; Iya Pak turun disini&#8221; jawab saya.Â  Tiba &#8211; tiba ada bapak &#8211; bapak yang usianya lebih muda dari pak tua itu memberikan saranÂ  &#8221; turun di Lampu Merah depan ajah pak, lebih gampang &#8220;. Pak tua itupun meneruti apa kata bapak tadi.</p>
<p>Beberapa menit kemudian Angkot D 01 sudah di depan lampu merah, tapi melihat kondisi jalanan yang ramai dan penuh dengan kebut kebutan motor dan mobil, Pak Tua pun bingung harus gimana menyelamatkan diri dari berpuluh puluh motor dan mobil yang melintas kencang. Kami yang di angkot pun ikut kebingungan.</p>
<p>Beruntung ada ibu-ibu berjilbab, duduk di depan pintu keluar angkot kami,Â  merasa kasian dengan sigap dan cerdasÂ  ibu itupun langsung memanggil pedagang asongan yang kebetulan lewat di sebelah angkot kami sambil menjajakan daganya.</p>
<p>Awalnya Saya pikir ibu itu mau beli rokok sambil meminta tolong pada pedagang itu untuk menyebrangkan pak tua dan dengan suara lantang ibu itu berkata &#8221; bang..bang..bang..rokok bang&#8230;sini deh bang &#8221; kata ibu tadi sambil malambaikan tangan. Pedagang asonganpun segera mendekat, akan tetapi ibu tadi hanyaÂ  memberikan uang tanpa mengambil rokok sambil berucap &#8221; bang bang tolong temenin bapak ini nyebrang, terus naikan di Bus Jurusan Pasar Rebo, tolong yah bang..kasian&#8230;&#8221;.</p>
<p>Masih dengan wajah polosnya pak tua pun segera berjalan keluar dari angkot dengan terbata bata sambil berkata &#8220;makasih ya pak , bu&#8230;maksih yah&#8221;.</p>
<p>Yah..meski ini hal kecil tapi ada <strong>hikmah</strong> yang bisa kita ambil dari sikap ibu tadi kepada pak tua. Semga amal baiknya di balas dengan seribu kebaikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/10/15/pak-tua-dan-ibu-yang-cerdas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
<enclosure url="" length="" type="" />
		</item>
		<item>
		<title>BEKAM BERSAMA si BOS</title>
		<link>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/07/03/bekam-bersama-si-bos/</link>
		<comments>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/07/03/bekam-bersama-si-bos/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 07:48:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saifuna</dc:creator>
				<category><![CDATA[KISAH HIKMAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://saifunalyoom.blogmalhikdua.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Setelah perkuliahan selesai, Kamis 2 Juli 2009, Si Bos, Ewin, Echo dan Aku lansung bergegas menuju kota Bekasi Jawa Barat dengan menggunakan Mobil Jet Tempur yang biasa kami pakai untuk acara â€“ acara tertentu saja. Panasnya terik matahari tak menyurutkan semangat kami menuju kota tersebut untuk berbekam. Selama perjalanan, perang opini sarat dengan lelucon ala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><img class="alignleft size-full wp-image-248" src="http://saifuna.blogmalhikdua.com/files/2009/07/bekam2.jpg" alt="bekam2" width="320" height="240" />Setelah perkuliahan selesai, Kamis 2 Juli 2009, Si Bos, Ewin, Echo dan Aku lansung bergegas menuju kota Bekasi Jawa Barat dengan menggunakan Mobil<span> </span>Jet Tempur yang biasa kami pakai untuk acara â€“ acara tertentu saja. Panasnya terik matahari tak menyurutkan semangat kami menuju kota tersebut <span> </span>untuk<span> </span>berbekam. Selama perjalanan, perang opini <span> </span>sarat dengan lelucon ala Triple E ( ewin, echo, dan endor ) <span> </span>tak henti â€“ hentinya mengocok peruuuut, setelah hampir satu jam perjalanan Jakarta- Bekasi <span> </span>kamipun <span> </span>sampai juga di RUMAH SEHAT TERAPI HOLISTIK TIBBUNNABAWI yang ada di Bilangan Bekasi Jawa Barat. Sesampainya di sana kami <span> </span>langsung menuju ruang pendaftaran untuk Berbekam, â€œSubhanallahâ€¦â€¦canggih sekali peralatan medisnya, tak kusangka praktek pengobatan yang di anggap primitif oleh sebagian orang, ternyata tidak seperti yang mereka duga. di sini peralatan yang di sediakan oleh pihak Rumah Sehat Terapi Holistik sudah benar benar modernâ€<span> </span>kataku dalam hati, fenomena tersebut membuatku semakin yakin untuk segera di bekam. Tak lama setelah pendaftaran, kumandang adzan terdengar sayup dari masjid yang tak jauh dari tempat kami akan berbekam, kamipun segera menuju masjid untuk menunaikan sholat dzuhur berjamaah. Ada insiden kecil yang menimpa ewin pasca sholat, <span> </span>Handphone canggih miliknya tertinggal di masjid, ia pun segera lari dari halaman parkir masjid ke tempat ia sholat tadi untuk mencari Hpnya, Alhamdulillah ternyata HP nya masi ada, tanpa curiga ia pun segera mengambil Hp itu dari tangan sang bapak berseragam muslim lengkap dengan sarung dan pecinya, ewin segera keluar, <span> </span>tanpa ragu ewin dan kami bertiga pun langsung menuju tempat bekam lagi untuk menunggu giliran masuk ruang Diagnosis.</p>
<p class="MsoNormal">Tak lama menunggu, kamipun di persilahkan masuk di ruang diagnosa, di ruang itu Sang TABIB ( sebutan dokter dalam bahasa arab ) menyambut kami dengan senyum ramah, satu persatu kamipun di diagnosa dengan menggunakan kamera canggih yang dihadapkan dekat dengan mata atau dalam bahasa medis di sebut dengan <strong>IRIDOLOGI</strong>, ia adalah proses diagnosa ilmu kedokteran modern <span> </span>melalui pengamatan selaput pelangi ( iris / pupil mata ) untuk mendeteksi penyakit penyakit degeneratif secara cepat, akurat dan efisien. <span> </span>ada yang menarik jika berobat disini, pasalnya sang tabib tak pelit ilmu layaknya para dokter umum<span> </span>lainya. Oleh beliau kami di jelaskan dan di beritahu secara detail penyakit apa saja yang bersarang di tubuh kami <span> </span>lengkap dengan sabab musababnya. Melalui alat detector dan video audio visual seputar penyakit dan pengobatanya sang tabib memulai pemaparanya dengan menjelaskan apa itu bekam, menurutnya <strong>bekam</strong> adalah suatu metode / cara terapi pengobatan yang sangat di ajurkan oleh Rasulullah SAW, dengan cara membuang penyumbatan timbunan lemak dan bibit penyakit yang mengendap dan bersenyawa dalam darah melalui organ â€“ organ bagian belakang tubuh kita atau organ tertentu lainya. Sesuai petunjuk Nabi di mana cara ini dapat menyembuhkan 72 penyakit yang terdapat dalam tubuh kita sebagai mana beberapa sabda Rasul di antaranya : â€œ Lakukanlah olehmu berbekam pada rongga kuduk ( Mastoid Apophysis ) karena menyembuhkan tujuh puluh dua penyakit.â€ ( H.R. At-Tirmidzi )</p>
<p class="MsoNormal">Setelah hampir satu jam presentasi dari sang tabib, kami pun segera di rujuk ke <span> </span>ruang isolasi pembekaman, tiga penjagal sudah bersiap â€“ siap dengan jarum suntik serta alat bekam lainya untuk mengeksekusi <span> </span>bibit bibit penyakit yang bersarang di tubuh kami. awalnya aku sempat tegang gimana rasanya di tusuk tusuk jarum, huuuufff ternyata rasanya gak jauh beda dengan gigitan semut, si Bos sang pemilik badan super gendut <span style="text-decoration: line-through">gak wajar</span> ( hahahaha maaf boz ) yang duduk bersebelahan denganku tak henti hentinya membuat aku, eko dan petugas bekam tertawa terbahak, di tusukan jarum pertama sampe kesepuluh si bos bilang â€œ geli geli geli geli aduh aduh geliâ€¦.sambil tertawaâ€ eh setelah tusukan berikutnya <span> </span>ia bilang â€œsakit sakit sakit sakitâ€¦â€¦â€¦â€¦.sambil nyengirâ€. Tak hanya itu saja yang membuat kami tertawa, ternyata ia hampir saja tertidur lelap sambil duduk ketika proses pembekaman sedang berlanjut . â€œ bos tidur bos ?â€ tanyaku pada si Bos, <span> </span>â€œ hampir ustad â€œ jawabnya lemas.</p>
<p class="MsoNormal">Alhamdulillahâ€¦â€¦â€¦..ahirnya bekamku selesai juga, akupun segera keluar dari ruangan dengan membawa bulatan â€“ bulatan <span> </span>merah hitam yang menempel di punggung dan tengkuk leherku, bulatan â€“ bulatan merah hitam itu akan segera hilang tak berbekas dalam waktu 3-4 hari.</p>
<p class="MsoNormal">Ku lihat Ewin yang sedari awal menunggu kami di luar ruangan, karna ia sudah 1 minggu lebih awal dari kami di bekam, sedang duduk <span> </span>lemas dan sedih, dengan tenang ia mencoba menceritakan nasib HP nya kepadaku, ternyata HP nya yang sempat tertinggal di mesjid dan <span> </span>terambil lagi, <span> </span>batrainya telah raib di ambil orang yang bersarung dan berpeci tadi, diapun sempat keliling masjid untuk mencari batrai HP nya, tapi hasilnya nihil. â€œ ya sudah win ikhlaskan aja, ntar juga insyaAllah ada gantinya lagi yang baruâ€<span> </span>kataku sedikit menghibur.</p>
<p class="MsoNormal">Sebelum pulang sang tabib memberikan kami resep tiga obat herbal mujarab yaitu : Madu, Minyak Zaitun dan kapsul Habbatussauda.</p>
<p class="MsoNormal">berhubung gak sempet jeprat jepret, gambar di atas di ambil dari <a href="http://nyehatin.blogspot.com/2009_01_01_archive.html">nyehatin.blogspot.com</a></p>
<p><a href="http://nyehatin.blogspot.com/2009_01_01_archive.html"><br />
</a></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/07/03/bekam-bersama-si-bos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
<enclosure url="" length="" type="" />
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Istana di Surga</title>
		<link>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/06/06/membangun-istana-di-surga/</link>
		<comments>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/06/06/membangun-istana-di-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 02:21:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saifuna</dc:creator>
				<category><![CDATA[KISAH HIKMAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://saifunalyoom.blogmalhikdua.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu saya menunggu chikatetsu (kereta bawah tanah) menuju pulang, saya melihat ada seorang muslimah. Ya, muslimah. Saya jarang bisa melihat atau bertemu muslimah di Negeri Matahari Terbit ini. Dari perawakannya, sepertinya dia dari bangsa Arab. Dia menoleh ke arah saya yang berada di barisan depan dan menggerakkan bibirnya mengucapkan sesuatu. Dia mengucapkan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum!&#8221; Saya spontan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA                           &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt"><span>Sewaktu saya menunggu <em>chikatetsu</em> (kereta bawah tanah) menuju pulang, saya melihat ada seorang muslimah. Ya, muslimah. Saya jarang bisa melihat atau bertemu muslimah di Negeri Matahari Terbit ini. Dari perawakannya, sepertinya dia dari bangsa Arab. Dia menoleh ke arah saya yang berada di barisan depan dan menggerakkan bibirnya mengucapkan sesuatu. Dia mengucapkan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum!&#8221; Saya spontan menjawab dengan suara pelan, &#8220;Wa&#8217;alaikumsalam&#8221; dan kusambung dalam hati, &#8220;Warahmatullahi wabarakatuh.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt"><span>Sungguh hati ini bagaikan gurun sahara mendapat curahan hujan. Demikian damai dan bahagia sekali. Tidak setiap hari saya mendapatkan salam langsung seperti itu. Biasanya saya hanya mendapat salam lewat email atau telepon. Atau bila saya bertemu sahabat-sahabat saya sesama muslim Indonesia, maka salam pun bertebaran demikian indahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt"><span>Tentu saja, salam formal khas Jepang tiap hari saya dapatkan. <em>Ohayou gozaimasu</em>, <em>konnichiwa</em> ataupun <em>konbanwa</em> (selamat pagi, selamat siang ataupun selamat malam), sudah biasa terdengar. Tetapi itu berbeda dengan salam dalam Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt"><span>Pada pertemuan pengajian pun, teman yang datang belakangan akan mengucapkan salam kepada yang telah lebih dulu datang. Tidaklah elok bila yang datang belakangan, tetapi menyalami teman akrabnya yang duduk agak jauh. Sedangkan dia akan melewati teman lain yang duduk dekat pintu masuk. Seperti sabda Rasulullah, salam bukan saja diucapkan kepada orang yang dikenal tetapi juga kepada yang belum dikenal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt;text-align: center" align="center"><span>***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt"><span>Bagaimana dengan salam yang ditulis singkat atau diucapkan sambil lalu? Saya pernah membaca email yang salam penutupnya hanya ditulis &#8220;Wass.&#8221; Entahlah apakah saya saja yang merasa nelangsa dan merasa diacuhkan dengan salam seperti itu. Seakan ditinggal pergi buru-buru oleh si pemberi salam. Benarkah dia memberi salam ataukah empat huruf itu hanyalah suara yang mirip salam? Tidakkah terpikir untuk menambah empat huruf lagi hingga salam penutup itu mempunyai makna?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt"><span>Pernah pula, belum selesai saya menamatkan salam penutup yang pendek pun, si penelepon sudah menutup telepon. Begitu pula sebaliknya, telepon diputus tanpa jawaban salam saya dengar dari seberang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt"><span>&#8220;Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.&#8221;<br />
(QS An-Nisaa&#8217;: 86)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt"><span>Bukankah salam itu doa? Doa yang diucapkan untuk saudaranya seakidah, &#8220;Semoga Allah memberi keselamatan padamu.&#8221; Walaupun memberi salam itu sunnah. Tetapi tahukah kita bahwa yang mengucapkan salam lebih dulu itu lebih dicintai Allah? Siapa yang tidak mau dicintai Allah? Semua makhluk berlomba mendapatkan cinta Allah. Kebalikannya, menjawab salam itu wajib. Salam dalam Islam merupakan doa. Selain itu salam juga merupakan sedekah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt;text-align: center" align="center"><span>***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt"><span>Pernah sahabat Rasulullah, Umar bin Khatab mengadukan Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah. &#8220;Ya, Rasulullah, Ali bin Abi Thalib tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku&#8230;&#8221; Rasulullah lalu menanyakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib membenarkan pengaduan Umar bin Khatab itu. &#8220;Ya, Rasulullah, itu kulakukan karena aku ingin supaya Umar bisa mendapatkan istana di Surga! Seperti yang disabdakan olehmu, ya Rasulullah. Bahwa siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di Surga.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt"><span>Bayangkan dengan memberi salam kita bisa membangun istana di Surga. Dengan salam, hati-hati kita terikat untuk saling mencintai. Kenapa kita tidak bersegera menebar salam kepada sahabat, handai taulan, keluarga dan saudara-saudara kita seiman? Sabda Rasulullah, &#8220;Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.&#8221; (HR Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 60pt;margin-left: 60pt"><span>Tulisan ini di ambil dari kisah seorang teman<img class="alignleft size-full wp-image-219" src="http://saifuna.blogmalhikdua.com/files/2009/06/bergaul1.jpg" alt="bergaul1" width="341" height="340" /><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/06/06/membangun-istana-di-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
<enclosure url="" length="" type="" />
		</item>
		<item>
		<title>Berhati-hatilah Kepada Siapa Anda Bercerita</title>
		<link>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/06/04/berhati-hatilah-kepada-siapa-anda-bercerita/</link>
		<comments>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/06/04/berhati-hatilah-kepada-siapa-anda-bercerita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 14:43:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saifuna</dc:creator>
				<category><![CDATA[KISAH HIKMAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://saifunalyoom.blogmalhikdua.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Posted by : saif_una Dalam beberapa hari ini Deni-bukan nama sebenarnya- terlihat murung. Wajahnya tidak secerah biasa. Ia lebih banyak diam dan sering menyendiri di kamar. Bahkan terkadang dalam diamnya itu Deni sering meneteskan air mata. Sepertinya ada beban berat yang dipikul hatinya. Ada masalah yang mengganggu pikirannya. Tapi Deni tidak bercerita pada yang lain. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA                           &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]-->Posted by : saif_una</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dalam beberapa hari ini Deni-bukan nama sebenarnya- terlihat murung. Wajahnya tidak secerah biasa. Ia lebih banyak diam dan sering menyendiri di kamar. Bahkan terkadang dalam diamnya itu Deni sering meneteskan air mata. Sepertinya ada beban berat yang dipikul hatinya. Ada masalah yang mengganggu pikirannya. Tapi Deni tidak bercerita pada yang lain. Ia lebih memilih berdiam diri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Esoknya adalah hari pernikahan Ust. Harun-bukan nama sebenarnya-. Salah seorang senior yang sering membantu Deni. Beliau adalah orang terdekat dengan Deni. Tempat Deni bercerita dan menumpahkan segala keluhan jiwanya selama ini. Ust. Harun dikenal sangat baik, perhatian dan suka membantu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saat ini beliau sedang menempuh jenjang S2, di Fak. Tafsir, Universitas Al-Azhar, Kairo. Teman-teman yang satu rumah dengan Deni menjadi heran, karena sikap Deni yang berbeda dari sebelumnya, apakah karena ia belum dapat kiriman ataukah ada masalah lainnya. Beberapa orang sudah mencoba bertanya pada Deni tentang permasalahan yang sedang ia hadapi. Tapi Deni selalu menolak untuk bercerita.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Keesokan harinya, acara aqad nikah Ust. Harun dilangsungkan di Wisma Nusantara dan sekaligus walimahan. Banyak tamu yang memadati ruangan. Bagaimana tidak, Ust. Harun adalah seorang aktivis di Kairo. Ia punya banyak teman dan kenalan. Namun Deni tidak terlihat batang hidungnya. Ust. Harun juga sempat bertanya tentang Deni, tapi teman-teman yang satu rumah dengan Deni mengatakan bahwa mereka tidak mengetahuinya. â€œTadi ia sudah siap-siap dan lebih dahulu keluar dari kami. Kami kira ia datang ketempat ini,â€ ungkap salah seorang teman yang serumah dengan Deni.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Hari pun sudah larut malam, jam hampir menunjukkan pukul 12. Tapi Deni belum juga pulang. Teman-teman yang se rumah dengan Deni jadi cemas. Hp Deni sudah berkali-kali dihubungi tapi tidak ada jawaban. Sekitar jam 2 malam Deni pulang ke rumah. Teman yang sekamar dengan Deni, Rasyid-bukan nama sebenarnya-belum tidur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Sesampai di rumah, Deni masih terlihat murung dan banyak diam. Rasyid mencoba mendekat dan bertanya lembut, â€œDeni, apa yang bisa saya Bantu?â€</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">â€œTidak ada, makasih.â€</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">â€œTadi sore Antum kemana? Kok nggak kelihatan di acara walimahannya Ust. Harun?â€</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">â€œTadi sore saya ke mesjid Al-Azhar, mencari ketenangan.â€</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">â€œSebenarnya apa permasalahan yang mengganggui pikiran Deni, kalau boleh saya tahu?â€</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Deni terdiam sejenak, ia menarik nafas dan menundukkan pandangan matanya. Air matanya kembali berderai.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">â€œDeni, apa sebenarnya yang terjadi?â€ Rasyid kembali bertanya sembari merangkul tangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">â€œSebenarnya saya tidak mau bercerita pada siapapun. Ini permasalahan yang sangat pribadi. Tapi, mudah-mudahan dengan bercerita pada Akhi, hati saya lebih tenang, beban akan terasa ringan dan mungkin akhi nanti bisa memberi saya saran, nasehat dan menghibur hati saya.â€</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">â€œInsya Allah, semampu sayaâ€, kata Rasyid.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">â€œAkhi, sejak dulu, ketika masih di pesantren hati saya telah tertaut pada seorang wanita, saya sangat menyukainya. Saya menyukainya karena agama dan kebaikan budi pekertinya. Sayapun mengenal baik orang tuanya. Perasaan itu tidak berhenti dan terus berlanjut sampai saya tiba di Mesir.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Besar harapan di hati saya wanita tersebut juga ikut ke Mesir. Sehingga di sini saya ingin memulai hubungan ini dan mengajaknya untuk menikah. Saya datang lebih awal ke Mesir sedang ia datang kemudian. Ia datang dengan beasiswa Depag. Sedangkan saya berangkat dengan biaya pribadi. Selama disini saya tetap menjaga hubungan baik dengannya. Dalam batas- batas yang tidak keluar dari syar`i.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Saya ingin melangkah untuk melamarnya. Namun saya merasa kurang pede, saya perlu ada yang mendorong , memberi semangat dan kekuatan. Saya butuh tempat curhat dan berbagi. Alhamdulillah saya menemukan orangnya, yaitu Ust. Harun. Berulang kali saya datang pada beliau dan menceritakan keinginan saya untuk menikah. Saya juga bercerita tentang wanita yang ingin saya lamar, tentang keluarganya, prestasinya, agamanya dan budi pekertinya. Tidak ada yang saya tutupi dan sembunyikan, saya lihatkan foto wanita itu , data dirinya dan data keluarganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Namun apa yang terjadi? Tanpa saya ketahui, Ust. Harun segera mencari tahu tentang wanita tersebut. Sehingga sampailah beliau menelpon keluarganya. Dan beliau mengutarakan lamarannya pada keluarga wanita tersebut. Pihak keluarga wanita mencoba menanyakan pada si wanita dan akhirnya ia menyetujuinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Itulah yang membuat saya sangat bersedih dengan sikap Ust. Harun, kenapa beliau tega melakukan hal itu pada saya. Selama ini Saya sangat percaya pada beliau. Tapi rupanya beliau juga tertarik dengan wanita pilihan saya tersebut. Akhirnya saya tidak jadi untuk melangkah karena didahului oleh Ust. Harun.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Apa yang bisa saya lakukan sekarang, tidak ada. Hati saya serasa hancur. Harapan saya seakan telah pudar. Saya agak shock dengan kejadian ini. Berat bagi saya untuk mengikhlaskan pernikahan ini. Berat bagi saya untuk mengatakan pada kedua mempelai â€ Barakallahu lakuma â€¦..â€ . Kaki saya sangat berat untuk melangkah menghadiri pernikahannya Ust. Harun. Saya tidak sanggup menyaksikan aqad nikah dan walimahan tersebut. Sampai saat ini hati saya masih sedih, saya tidak tahu harus kemana mengadu dan bercerita. Saya berharap akhi bisa membantu saya.â€</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Ia kembali menangis, ia tak sanggup menahan tumpahan air matanya, Rasyidpun tanpa sadar meneteskan air matanya, ia ikut terharu dengan cerita Deni. Rasyid tidak menduga, Ust. Harun yang selama ini dikenal baik melakukan hal itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">â€œDeni, sabar ya, segala sesuatunya telah ditentukan Allah. Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi Deni. Bisa jadi apa yang Deni pandang baik menurut Deni, belum tentu baik dalam pandangan Allah dan begitu sebaliknya. Deni tidak usah terlalu berlarut dalam kesedihan. Setiap orang telah Allah tentukan jodohnya masing-masing. Saya yakin Allah telah menyiapkan yang terbaik untuk Deni.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tidak ada gunanya menangisi apa yang telah terjadi. Semua itu tidak akan mengubah apa-apa. Mintalah pada Allah agar diberikan ganti yang lebih baik. â€œ</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Mendengar kata-kata Rasyid, Deni pun mulai mengembang senyum, sambil mengusap air matanya ia berkata , â€ Kata-kata akhi sungguh sangat berarti bagi saya, begitu menyejukkan hati saya dan menggugah jiwa saya. Betul apa yang akhi katakan belum tentu apa yang baik menurut saya baik menurut Allah. Insya Allah saya tidak akan bersedih lagi, saya akan pasrah pada Allah, saya akan terus berdo`a pada Allah untuk memberikan yang terbaik pada saya, insya Allah saya akan bersabar, terima kasih atas nasehat akhi.â€</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">â€œDah, sekarang Deni berwuduk , shalat dua raka`at dan kemudian baca Al-qurâ€™an , insya Allah hati Deni akan tenang kembali.â€</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">â€œIya akhi, sekali lagi jazakumullahu khairan.â€</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Esoknya Deni kembali seperti biasa, ceria dan bersemangat. Seolah-olah tidak ada yang terjadi pada dirinya. Ya, karena semalaman ia telah bersujud panjang di hadapan Allah, menumpahkan dan mengadukan segala resah hati pada Allah yang maha mengetahui segala isi hati dan segala sesuatu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">NB: Kisah di atas dari seorang teman. Nama tokoh dan tempat hanyalah rekayasa belaka, untuk menjaga agar tidak menyudutkan pihak tertentu. Kalau ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan saja. Moga kisah nyata di atas menggugah hati kita dan memberi kita pelajaran yang sangat berharga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Salam dari Kairo,<br />
marif_assalman@yahoo.com<br />
[Anggota FLP Mesir]</span></p>
<p><span lang="IN">Sumber : </span><span><a href="http://eramuslim.com/oase-iman/berhati-hatilah-kepada-siapa-anda-bercerita.htm"><span lang="IN">http://eramuslim.com/</span></a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/06/04/berhati-hatilah-kepada-siapa-anda-bercerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
<enclosure url="" length="" type="" />
		</item>
		<item>
		<title>3 HAL MEMBAWA KEUNTUNGAN</title>
		<link>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/05/09/3-hal-membawa-keuntungan/</link>
		<comments>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/05/09/3-hal-membawa-keuntungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 12:35:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saifuna</dc:creator>
				<category><![CDATA[KISAH HIKMAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://saifunalyoom.blogmalhikdua.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari al-Imam Asy-Syafi&#8217;i ra datang berkunjung ke rumah al-Imam Ahmad bin Hambal. Seusai makan malam bersama, al-Imam Asy-Syafi&#8217;i masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya dan beliau segera berbaring hingga esok fajar. Pada suatu hari al-Imam Asy-Syafi&#8217;i ra datang berkunjung ke rumah al-Imam Ahmad bin Hambal. Seusai makan malam bersama, al-Imam Asy-Syafi&#8217;i masuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #505050">Pada suatu hari al-Imam Asy-Syafi&#8217;i ra datang berkunjung ke rumah al-Imam Ahmad bin Hambal. Seusai makan malam bersama, al-Imam Asy-Syafi&#8217;i masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya dan beliau segera berbaring hingga esok fajar.<br />
</span><br />
Pada suatu hari al-Imam Asy-Syafi&#8217;i ra datang berkunjung ke rumah al-Imam Ahmad bin Hambal. Seusai makan malam bersama, al-Imam Asy-Syafi&#8217;i masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya dan beliau segera berbaring hingga esok fajar.</p>
<p>Puteri Imam Ahmad yang mengamati Imam Syafi&#8217;i sejak awal kedatangannya hingga masuk kamar tidur terkejut melihat teman dekat ayahnya itu. Dengan terheran-heran ia bertanya, &#8220;Ayah&#8230;., ayah selalu memuji dan mengatakan bahwa Imam Syafi&#8217;i itu seorang ulama yang amat alim. Tapi setelah kuperhatikan dengan seksama, pada dirinya banyak hal yang tidak berkenan di hatiku, dan tidak sealim yang kukira.&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad agak terkejut mendengar perkataan putrinya. Ia balik bertanya, &#8220;Ia seorang yang alim anakku. Mengapa engkau berkata demikian?&#8221;</p>
<p>Sang putri berkata lagi, &#8220;Aku perhatikan ada tiga hal kekurangannya, Ayah. Pertama, pada waktu disuguhi makanan, makannya lahap sekali. Kedua, sejak masuk ke kamarnya, ia tidak shalat malam dan baru keluar dari kamarnya sesudah tiba shalat subuh. Ketiga, ia shalat subuh tanpa berwudhu.&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad merenungkan perkataan puterinya itu, maka untuk mengetahui lebih jelasnya dia menyampaikan pengamatan puterinya kepada Imam Syafi&#8217;i.</p>
<p>Maka Imam Syafi&#8217;i tersenyum mendengar pengaduan puteri Imam Ahmad tersebut. Lalu ia berkata, &#8220;Ya Ahmad, ketahuilah olehmu. Aku banyak makan di rumahmu karena aku tahu makanan yang ada di rumahmu jelas halal dan thoyib, maka aku tidak meragukannya sama sekali. Karena itulah aku bisa makan dengan lahap. Lagi pula aku tahu engkau adalah seorang pemurah. Makanan orang pemurah itu adalah obat, sedangkan makanan orang kikir adalah penyakit. Aku makan semalam bukan untuk kenyang, akan tetapi untuk berobat dengan makananmu, ya Ahmad. Sedangkan mengapa aku semalam tidak shalat malam, karena ketika aku meletakkan kepalaku di atas bantal tidur, tiba-tiba seakan aku melihat di hadapanku kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Dengan izin Allah, malam itu aku dapat menyusun 72 masalah ilmu fikih Islam sehingga aku tidak sempat shalat malam. Sedangkan kenapa aku tidak wudhu lagi ketika shalat subuh karena aku pada malam itu tidak dapat tidur sekejap pun. Aku semalam tidak tidur sehingga aku shalat fajar dengan wudhu shalat Isya&#8217;.</p>
<p>Â </p>
<p>sumber : oase iman</p>
<p>posted by :ukhti_una</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/05/09/3-hal-membawa-keuntungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="" length="" type="" />
		</item>
		<item>
		<title>MENIKAH MEMBUATKU JADI KAYA</title>
		<link>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/05/08/menikah-membuatku-jadi-kaya/</link>
		<comments>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/05/08/menikah-membuatku-jadi-kaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 14:56:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>saifuna</dc:creator>
				<category><![CDATA[KISAH HIKMAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://saifunalyoom.blogmalhikdua.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Kepada suamiku, waktu itu aku membeberkan bahwa biaya operasional untuk keaktifanku cukup besar. Ongkos jalan, pulsa telepon, nombok biaya kegiatan, makan dan traktiran. Intinya, aku mencari apologi atas aliran uangku yang tidak jelas. Namun diam-diam aku malu padanya. Sesaat sebelum pernikahan kami, dia berkata, â€œGajiku jauh di bawah gajimu&#8230;â€. Kata-kata suamiku -ketika masih calon- itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-72" src="http://saifuna.blogmalhikdua.com/files/2009/05/176_t221.jpg" alt="176_t221" width="400" height="263" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Kepada suamiku, waktu itu aku membeberkan bahwa biaya operasional untuk keaktifanku cukup besar. Ongkos jalan, pulsa telepon, nombok biaya kegiatan, makan dan traktiran. Intinya, aku mencari apologi atas aliran uangku yang tidak jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Namun diam-diam aku malu padanya. Sesaat sebelum pernikahan kami, dia berkata, â€œGajiku jauh di bawah gajimu&#8230;â€. Kata-kata suamiku -ketika masih calon- itu membuatku terperangah. â€œYang benar saja?â€ sambutku heran. Dengan panjang kali lebar kemudian dia menjelaskan kondisi perusahaan plat merah tempatnya bekerja serta bagaimana tingkat numerasinya. Yang membuatku lebih malu lagi adalah karena dengan gajinya yang kecil itu, setelah empat tahun hidup di Jakarta, ia telah mampu membeli sebuah sepeda motor baru dan sebuah rumah â€“walaupun bertipe RSS- di dalam<span> </span>kota Jakarta. Padahal, ia tidak memiliki sumber penghasilan lain, dan dikantornya dikenal sebagai seorang yang bersih, bahkan â€œtak kenal kompromi untuk urusan uang tak jelas.â€ Fakta bahwa gajinya kecil membuatku tahu bahwa suamiku adalah seorang yang hemat dan pandai mengatur penghasilan. Sedang aku? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Hari-hari pertama kami pindahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Aku menata baju-baju kami di lemari. â€œMana lagi baju, Mas?â€ tanyaku pada suami yang tengah berbenah. â€œUdah, itu aja!â€ Aku mengernyit. â€œItu aja? Katanya kemarin baju Mas banyak?â€ tanyaku lebih lanjut. â€œIya, banyak kan?â€ tegasnya lagi tanpa menoleh. Aku kemudian menghitung dengan suara keras. Tiga kemeja lengan pendek, satu baju koko, satu celana panjang baru, tiga pasang baju seragam. Itu untuk baju yang dipakai keluar rumah. Sedang untuk baju rumah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>tiga potong kaos oblong dengan gambar sablon sebuah pesantren, dua celana pendek sedengkul dan tiga pasang pakaian dalam. Ketika kuletakkan dalam lemari, semua itu tak sampai memenuhi satu sisi pintu sebuah lemari. Namun dua lemari besar itu penuh. Itu artinya pakaianku lebih dari tiga kali lipat lebih banyak dibanding jumlah baju suamiku. Kata orang, kaum wanita biasanya memang memiliki baju lebih banyak dibanding kaum laki-laki. Tapi isi lemari baju itu memberikan jawaban atas banyak hal padaku. Terutama, pertanyaannya di hari-hari pertama pernikahan kami tentang ke mana saja uangku. Isi lemari itu memberi petunjuk bahwa selain untuk keluarga dan organisasi, ternyata aku menghabiskan cukup banyak uang untuk belanja pakaian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Pekan-pekan pertama aku hidup bersamanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Aku mencoba mencatat semua pengeluaran kami. Dan aku sudah mulai memasak untuk makan sehari-hari. Cukup pusing memang. Apalagi jika melihat harga-harga yang terus melonjak. Tapi coba lihat&#8230;! Untuk makan seminggu, pengeluaran belanjaku tak pernah lebih dari seratus ribu. Padahal menu makanan kami tidaklah terlalu sederhana: dalam seminggu selalu terselip ikan, daging atau ayam meski tidak tiap hari. Buahâ€“makanan -kesukaanku- dan susu â€“minuman favorit suamiku- selalu tersedia di kulkas. Itu artinya, dalam sebulan kami berdua hanya menghabiskan kurang dari lima ratus ribu untuk makan dan belanja bulanan. Aku jadi berhitung, berapa besar uang yang kuhabiskan untuk makan ketika melajang? Aku tak ingat, karena dulu aku tak pernah mencatat pengeluar pengeluaranku dan aku tidak memasak. Tapi yang pasti, makan siang dan malamku rata-rata seharga sepuluh hingga belasan ribu. Belum lagi jika aku jalan-jalan atau makan di luar bersama teman. Bisa dipastikan puluhan ribu melayang. Itu artinya, dulu aku menghabiskan lebih dari 500ribu sebulan hanya untuk makan? Ups!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Baru sebulan menikah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>â€œDe, kulihat pembelian pulsamu cukup banyak? Bisa lebih diatur lagi?â€ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>â€œMas, untuk pulsa, sepertinya aku tidak bisa menekan. Karena itu adalah saranaku mengerjakan amanah di organisasi.â€ Si mas pun mengangguk. Tapi ternyata, kuhitung dalam sebulan ini, pengeluaran pulsaku hanya 300 ribu, itu pun sudah termasuk pulsa untuk hp si Mas, lumayan berkurang dibanding dulu yang nyaris selalu di atas 500 ribu rupiah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Masih bulan awal perkawinan kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Seminggu pertama, aku diantar jemput untuk berangkat ke kantor. Tapi berikutnya, untuk berangkat aku nebeng motor suamiku hingga ke jalan raya dan meneruskan perjalanan dengan angkutan umum sekali jalan. Dua ribu rupiah saja. Pulangnya, aku naik angkutan umum. Dua kali, masing-masing dua ribu rupiah. Sebelum menikah, tempat tinggalku hanya berjarak tiga kiloan dari kantor. Bisa ditempuh dengan sekali naik angkot plus jalan kaki lima belas menit. Ongkosnya dua ribu rupiah saja sekali jalan. Tapi dulu aku malas jalan kaki. Kuingat-ingat, karena waktu mepet, aku sering naik bajaj. Sekali naik enam ribu rupiah. Kadang-kadang aku naik dua kali angkot, tujuh ribu rupiah pulang pergi. Hei, besar juga ya ternyata ongkos jalanku dulu? Belum lagi jika hari Sabtu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>ongkos jalanku dulu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Belum lagi jika hari Sabtu Ahad. Kegiatanku yang banyak membuat pengeluaran ongkos dan makan Sabtu Ahadku berlipat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Belum lagi tiga bulan menikah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>â€œKe ITC, yuk, Mas?â€ Kataku suatu hari. Sejak menikah, rasanya aku belum lagi menginjak ITC, mall, dan sejenisnya. Paling pasar tradisional. â€œOke, tapi buat daftar belanja, ya?â€ kata Masku. Aku mengangguk. Di ITC, aku melihat ke sana ke mari. Dan tiap kali melihat yang menarik, aku berhenti. Tapi si Mas selalu langsung menarik tanganku dan berkata,â€Kita selesaikan yang ada dalam daftar dulu?â€ Aku mengangguk malu. Dan aku kembali teringat, dulu nyaris setiap ada kesempatan atau pas lewat, aku mampir ke ITC, mall dan sejenisnya. Sekalipun tanpa rencana, pasti ada sesuatu yang kubeli. Berapa ya dulu kuhabiskan untuk belanja tak terduga itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Masih tiga bulan pernikahan â€œKita beli oleh-oleh sebentar ya, untuk Bude?â€ Masku meminggirkan motor. Kios-kios buah berjejer di pinggir jalan. Kami dalam perjalanan silaturahmi ke rumah salah satu kerabat. Dan membawakan oleh-oleh adalah bagian dari tradisi itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>â€œSekalian, Mas. Ambil uang ke ATM itu&#8230;â€ Aku ingat, tadi pagi seorang tetangga ke rumah untuk meminjam uang. Ini adalah kesekian kali, ada tetangga meminjam kepada kami dengan berbagai alasan. Dan selama masih ada si Mas selalu mengizinkanku untuk memberi pinjaman(meski tidak langsung saat itu juga). Semua itu membuatku tahu, meskipun hemat, si Mas tidaklah pelit. Bersikaplah pertengahan, begitu katanya. Jangan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas, tapi jangan lantas menjadi pelit!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span><span> </span>Semester pertama pernikahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Mengkilat. Elegan. Kokoh. Masih baru. Gress. Begitu sedap dipandang mata. Benda itu, sudah sekian lama kuinginkan. Sebuah laptop baru kelas menengah (meski masih termasuk kategori low end). Namun selama ini, setiap kali melihatnya di pameran atau di toko-toko komputer, aku hanya bisa memandanginya dan bermimpi. Tak pernah berani merencanakan, mengingat duitku yang tak pernah cukup. Tapi rasanya, dalam waktu dekat benda di etalase itu akan kumiliki. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Rasanya sungguh indah, memiliki sebuah benda berharga yang kubeli dengan uangku sendiri, uang yang kukumpulkan dari gajiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Sejak menikah, aku tak pernah lagi membeli baju untuk diriku sendiri. Pakaian dan jilbabku masih dapat di-rolling untuk sebulan. Sejak menikah, aku memilih membawa makan siang dari rumah ke kantor. Aku juga jarang ke mall lagi. Dan kini, setiap kali akan membeli sesuatu, aku selalu bertanya: perlukah aku membeli barang itu? Indahnya, aku menikmati semua itu. Dan kini, aku bisa menggunakan tabunganku untuk sesuatu yang lebih berharga dan tentu saja bermanfaat bagi aktifitasku saat ini, lingkunganku dan masa depanku nanti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Aku bersyukur kepada Allah. Semua ini, bisa dikatakan sebagai berkah pernikahan. Bukan berkah yang datang tiba-tiba begitu saja dari langit. Tapi berkah yang dikaruniakan Allah melalui pelajaran berhemat yang dicontohkan oleh suamiku. Rabb, terima kasih atas berkahMu&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Posted by : saif_una</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Text from : ukhti_una<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://saifuna.blogmalhikdua.com/2009/05/08/menikah-membuatku-jadi-kaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
<enclosure url="" length="" type="" />
		</item>
	</channel>
</rss>
